Sabtu, 25 Mei 2013

laporan praktikum fisika koefisien statis, kinetis dan tumbukan



LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA
KOEFISIEN GESEKAN STATIS,KINETIS DAN TUMBUKAN
 

PRAKTIKUM :
1.   Indit Darmastuti     (14 )
2.  Isma Nuriyah          (16)
3.  Siti  Nur Istiqomah (25)
4.  Toya Mulyati           (27)
XI-IA 2
Guru Pembimbing : Bu Umi Kulsum

SMA NEGERI 1 TUNJUNGAN
TAHUN AJARAN 2012/2013

LAPORAN
KOEFISIEN GESEKAN STATIS

1.Tujuan                         
# menentukan besar koefisien gesekan statis.
         
2. Dasar Teori
Gaya gesek statis adalah gesekan antara dua benda padat yang tidak bergerak relatif satu sama lainnya. Seperti contoh, gesekan statis dapat mencegah benda meluncur ke bawah pada bidang miring. Koefisien gesek statis umumnya dinotasikan dengan μs, dan pada umumnya lebih besar dari koefisien gesek kinetis.

3. Alat dan Bahan
                   1. Balok aluminium 1 buah.
                        2. Neraca pegas
3N.
                        3. Balok kaca.

                        4. Bidang datar.




4. Langkah kerja
1. Timbang balok aluminium dan balok kaca.
2. Susun alat dengan neraca pegas berarah mendatar.
3. Tarik pegas perlahan-lahan. Jika balok tepat mulai bergerak,catatlah skala gaya yang ditunjukkan neraca pegas ke dalam table yang tersedia,ulangi percobaan sebanyak 2 kali.
4. Ulangi langkah 2 sampai 3 dengan arah tarikan pegas mendatar dengan sudut 90˚.


 


 




5. Data Hasil Percobaan
·         Tabel 1. Balok aluminium 1 buah (m =kg) dan g = 10 m/s2

ARAH NERACA
PERCOBAAN
BERAT (m.g)
SKALA NERACA
µs
µs rata-rata
MENDATAR
1.
1,72
0.4
0,23
0,21
2.
1,72
0.4
0,23
3.
1,72
0.3
0,17
MENDATAR DENGAN SUDUT 90˚
1.
1,38
4N
0,15

0,08
2.
1,38
4N
0,14
3.
1,38
3N
0,16










6.Analisis Data Hasil Pengamatan
1.  Rumusan untuk menghitung besar koefisien gesekan statis ?
      Jawab : fs = µs .N
  f – fs = m.g sin α
2. Dari hasil pengamatan, besar koefisien gesekan statis pada Tabel 1 ?
Jawab : Pada keadaan mendatar µs    = 0,23 ; 0,23 dan 0,17
                          Pada keadaan 90˚ µs                    = 0,08 ; 0,08 dan 0,09
           








7. Kesimpulan
a. Pada percobaan di atas,koefisien gesekan statis µs yang terjadi antara permukaan balok aluminium dan meja sebesar = a. keadaan mendatar  : 0,36
                                                            c. keadaan 90˚             : 0,14
b. Apakah arah tarikan neraca pegas pada percobaan berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap besar koefisien gesekan statis ?
Jawab : Ya, sangat berpengaruh karena arah tarikan yang mendatar akan memperbesar koefisien gesekan statis dan arah tarikan dengan sudut yang tegak lurus akan memperkecil koefisien gesekan statis ( µs  )

















KOEFISIEN GESEKAN KINETIS

1.   Tujuan
# Menentukan koefisien gesekan kinetis.


2.   Dasar Teori
Gaya gesek kinetis (atau dinamis) terjadi ketika dua benda bergerak relatif satu sama lainnya dan saling bergesekan. Koefisien gesek kinetis umumnya dinotasikan dengan μk dan pada umumnya selalu lebih kecil dari gaya gesek statis untuk material yang sama.


3.   Alat dan Bahan

Ø  Dasar statif
Ø  Kaki statif
Ø  Batang statif panjang
Ø  Batang statif pendek
Ø  Balok pendukung
Ø  Balok aluminium
Ø  Balok kaca
Ø  Bidang miring yang terbuat dari bahan kayu atau kaca















4.   Langkah kerja

1.      Timbang balok aluminium dan balok kaca.
2.      Ukur luas permukaan sentuh masing-masing balok tersebut.
3.      Susunlah alat dengan balok aluminium berada di atas permukaan bidang miring yang terbuat dari bahan kayu atau kaca seperti gamabar berikut:
4.      Tarik bidang miring ke atas dengan perlahan-lahan. Jika balok telah bergerak dengan kelajuan tetap,catatlah besar sudut kemiringan bidang miring terhadap horizontal ke dalam table yang tersedia, ulangi percobaan 3kali dengan permukaan sentuh balok atau sudut yang berlainan.
5.      Ulangi langkah 3 dan 4 dengan menggunakan balok kaca.


 







5.Data Hasil Percobaan

Arah Neraca
Percobaan
Berat(m.g)
Skala Neraca
µk
Rata” µk
Balok Alumunium
1.
0,5 N
5
0,08
0,08

2.
0,5 N
5
0,08


3.
0,5 N
5
0,08

Balok Kaca
1.
0,78 N
3
0,052
0,052

2.
0,78 N
3
0,052


3.
0,78 N
3
0,052



6.      Analisis Data Hasil Pengamatan

1.      Rumus untuk menghitung besar koefisien gesekan kinetis ?
Jawab : tan α
2.      Dari hasil pengamatan, besar koefisien gesekan pada Tabel  ? Mengapa ?
Jawab :      sudut 45˚ = 1
                  sudut 35˚ = 0,7002
                  sudut 30˚ = ⅓√3
ð  Karena memilki sudut yang berbeda.



7.      Kesimpulan

1.      Percobaan  di atas, koefisien gesekan kinetis terjadi berbeda-beda, karena tiap percobaan memiliki sudut yang berbeda-beda dan karena besarnya koefisien gesek kinetik (µk ) di pengaruhi oleh besarnya sudut .

2.      Apakah massa  di atas berpengaruh terhadap besar koefisien gesekan kinetis
Jawab : Tidak karena
µk  di pengaruhi oleh sudut.


3.      Besar koefisien gesekan statis dan kinetis di pengaruhi oleh ?
jawab:  =>  berat benda dan sudut.
    
TUMBUKAN

1.    Tujuan

ð  Membuktikan hukum kekekalan momentum

2.    Dasar Teori

Hukum kekekalan momentum adalah salah satu hukum dasar yang ada dalam ilmu Fisika. Hukum ini menyatakan bahwa “Momentum  total dua buah benda sebelum bertumbukan adalah sama setelah bertumbukan”Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa nilai momentum total ketika benda bertumbukan adalah konstan atau tidak berubah. Untuk memahami hukum ini, dapat kita mulai dengan memahami Hukum ketiga Newton tentang Aksi-Reaksi.

3.    Alat dan Bahan

Ø  1 buah bola bekel  = 20,7 gram
Ø  1 buah kelereng     = 21,1 gram
Ø  1 buah bola besi     = 34,2 gram
Ø  3 stopwatch
Ø  1 buah rel presisi (1 meter)
Ø  Penggaris

4.    Langkah Kerja

1.      Siapkan alat untuk memulai percobaan.
2.      Timbang masing-masing berat dari bola bekel dan kelereng.
3.      Letakkan 1 buah bola bekel (bola A) di dalam rel presisi sesuai dengan jarak yang kita inginkan dan 1 buah bola bekel (bola B) kita letakkan di ujung rel presisi.
4.      Luncurkan bola A hingga menumbuk bola B, hitung kecepatan bola A saat bertumbukkan dengan bola B sebagai kecepatan awal bola A (υA) dengan menggunakan stopwatch.
5.      Setelah bola A bertumbukan dengan bola B hitung kembali kecepatan bola A dan B menggunakan stopwatch hingga bola A dan B berhenti, sebagai  υA  dan υB’ dan hitung jarak berhentinya bola A dan B.
6.      Lakukan percobaan 3-5 menggunakan kelereng.







5.    Data Hasil Percobaan
Tabel Percobaan bola bekel
( mA = mB = 20gr = 0,02 kg dan υB = 0 m/s2 )

PERCOBAAN
mA
mB
υA
υB
mAυA + mB υB
υA
υB
mAυA’ + mB υB’
1.
20g
20g
0,38
0
0,0076
0,15
0,22
0,0074
2.
20g
20g
0,185
0
0,0037
0,075
0,11
0,0037
3.
20g
20g
0,25
0
0,005
0,15
0,10
0,005

            Tabel 2 Percobaan kelereng
( mA = mB = 10,8 gr dan υB = 0 m/s2 )

PERCOBAAN
mA
mB
υA
υB
mAυA + mB υB
υA
υB
mAυA’ + mB υB’
1.
10,8
0.024
0,25
0
0,005
0,06
0,07
0,0029
2.
10,8
0,024
0,5
0
0,01
0,075
0,15
0.0051
3.
10,8
0,024
0,1
0
0,005
0,05
0,1
0,0034


6.    Analisis Data Hasil Pengamatan
1.      Dari hasil pengamatan Tabel 1 apakah sebelum dan sesudah tumbukan terdapat perbedaan momentum ?
Jawab : a. Pada percobaan 2 dan 3 terdapat persamaan momentum  ∆P = ∆P’
             b. Ada perbedaan momentum sebelum dan sesudah yaitu pada percobaan 1
       
2.      Dari hasil pengamatan Tabel 2 apakah sebelum dan sesudah tumbukan terdapat perbedaan momentum ?
Jawab : a. Pada percobaan 1 dan 2 terdapat persamaan momentum ∆P = ∆P’
             b. Ada perbedaan momentum sebelum dan sesudah yaitu pada percobaan 3.

7.    Kesimpulan

ð  Terbukti bahwa pada percobaan di atas ada beberapa data yang menunjukkan momentum sebelum tumbukan sama dengan momentum sesudah tumbukan
 ∆P = ∆P
mAυA + mB υB  = mAυA   + mB υB
      konstan antara tumbukan sebelum dan sesudah .











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar